Langkah Awal Tahun yang Indah

Di awal tahun 2026 yang masih basah oleh embun harapan, saya membuka mata dengan seperangkat rencana yang tersusun rapi dalam pikiran. “Harus diawali dengan semangat dan tekad yang kuat,” bisik hati, menjadi mantra penggerak langkah pertama. Meski badan masih menyimpan lelah dan pegal, bekas kehujanan yang menguji ketahanan fisik, saya berikhtiar bangkit dari kasur yang hangat. Bukan untuk mengejar dunia, melainkan untuk meraih kemuliaan yang dijanjikan Sang Maha Rahman dalam keheningan sepertiga malam terakhir.

Tahajjud, sebuah ibadah tambahan yang di dalamnya tersimpan rahasia pengangkatan martabat. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Isra: 79, “Dan pada sebagian malam, bertahajjudlah sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” Bukankah pujian dari Allah adalah mahkota tertinggi yang bisa disandang seorang hamba? Inilah yang saya ikhtiarkan.

Usai tahajjud dan witir, masih ada jeda sebelum waktu Subuh tiba. Saya mengisi waktu dengan menyetrika pakaian, ritual kecil yang melatih kedisiplinan dan keikhlasan. Tidak banyak, karena hampir setiap hari setrikaan ini menemani, mencegah tumpukan menjadi beban. Kemudian, saya mandi dan bersiap untuk shalat Subuh, diikuti tadarus Al-Quran. Sebelum berbicara dengan manusia, sepatutnya saya memperbanyak komunikasi dengan Allah, mentadabburi firman-firman-Nya yang tak ada bandingnya. Inilah komitmen saya.

Sarapan pagi sederhana berupa segelas radix hangat  dicampur sejumput garam adalah favorit saya. Kali ini saya juga menikmati beberapa butir kolang kaling yang dimaniskan dengan madu. Untuk suami, saya siapkan pisang kepok rebus. 

Saya tidak perlu memasak banyak hari ini, sehingga saya bisa fokus untuk menulis dan membereskan beberapa tugas kampus. Sebelumnya saya shalat Dhuha, memohon kekuatan dan keistiqomahan dalam melaksanakan tanggung jawab keilmuan.

Namun, rencana menulis artikel dan menyelesaikan tugas kampus pagi itu harus tertunda. Qadarullah, telepon dari adik menghampiri, dan selama 45 menit saya lebih banyak mendengarkan. Matematika waktu berubah: agenda saya berkurang, tetapi nilai kebersamaan bertambah. Saya percaya, ini adalah bagian dari rencana Allah, bahwa silaturahmi dengan saudara sedarah lebih berharga daripada sekadar berbagi inspirasi lewat tulisan kepada orang-orang di jagat maya 

Begitu pula saat kami berkumpul dengan keluarga besar di rumah orang tua. Tawa keponakan, canda kakak-adik, dan kehangatan yang hanya muncul dalam momen-momen langka, semuanya mengalihkan jadwal yang telah saya susun rapi. Dan lagi-lagi, saya tidak merasa kecewa. Sebab, ada rencana yang lebih besar sedang berjalan: rencana kebersamaan, rencana cinta, rencana ketulusan.

Beberapa jam waktu tersita untuk keluarga. Kami kembali ke rumah dengan bahagia. Bahagia yang tercipta oleh cinta kasih keluarga. Sebelumnya kami sempatkan mampir di toko herbal. Hidup sehat adalah pilihan. Sejak delapan tahun lalu saya memutuskan  berpisah dengan obat-obatan medis, dan lebih dari dua tahun belakangan meninggalkan nasi. Garam himalaya dan susu kambing yang kami beli di toko herbal adalah ikhtiar lain untuk menjaga kesehatan yang Allah anugerahkan.

Sore hari, tubuh mulai mengirimkan sinyal. Riwayat gangguan saraf mengingatkan saya untuk segera beristirahat. Saya pun mematuhinya, menyerahkan segala daftar pekerjaan kepada-Nya. Tidur singkat 30 menit terasa seperti anugerah yang memulihkan. Terbangun tepat pada waktu Ashar, segera saya menuju air wudhu, memenuhi panggilan shalat di awal waktu, komitmen kecil yang selalu Allah mudahkan.

Malam pun tiba. Agenda yang tak kesampaian pagi dan siang, akhirnya menemukan waktunya kini. Di balik kesenyapan malam, sembari rebahan, saya mencurahkan pikiran dan rasa lewat tulisan. Dan dalam kesadaran dan kesabaran inilah, justru saya menemukan ketuntasan.

Hari ini mengajarkan satu hal yang mahal: manusia boleh merencanakan, tetapi Allah yang menentukan. Sehelai daun kering yang jatuh, sebuah telepon yang tak terduga, bahkan detak jantung yang tetap berdegup, semuanya adalah bagian dari skenario Allah (QS. Al-An’am: 59). Dan di tengah semua ketidakpastian itu, ada kepastian bahwa setiap langkah yang ikhlas dan setiap waktu yang diserahkan kepada-Nya, tidak akan pernah sia-sia.

Maka, saya menutup catatan ini dengan syukur. Syukur untuk rencana yang  tertunda, untuk momen yang hadir tak terduga, untuk kesehatan yang terpelihara, dan untuk kesadaran bahwa kita hanya bisa merencanakan, Allah yang berhak memutuskan.

Semoga tahun 2026 ini menjadi tahun di mana kita lebih banyak bersandar kepada Allah, lebih percaya kepada jalan-Nya, dan lebih ikhlas menerima setiap ketetapan-Nya yang sesungguhnya jauh lebih indah dari yang kita rencanakan.


Padangsidimpuan, 01 Januari 2026

Jelang rehat malam


JWS. Rizki

Post a Comment

0 Comments