Jaga Jarak, Tahan Wicara: Cara Bijak Bentengi Jiwa

Terkadang, jarak bukanlah tembok yang memutus tali silaturahmi, melainkan benteng nurani yang memberi batas nyaman bagi diri dan sanubari.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, ada kalanya kita perlu menarik diri dari interaksi yang  tak bernilai maupun perbincangan tak berbobot yang berpotensi merusak suasana hati. Bukan karena benci, melainkan karena sadar bahwa tidak semua orang layak diajak menyelami samudera pikiran kita. Sebab, dunia bagai panggung sandiwara, di mana setiap orang memainkan peran, namun tidak semua layak menjadi penonton cerita hidup kita.

Menjaga Diri, Menjaga Makna
Al-Quran mengingatkan, “Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau.” (QS. Al-An’am: 32). Namun, di balik kesementaraan dunia, kita dituntut untuk serius menjaga hati dan pikiran. Sebab, dunia adalah terminal menuju akhirat, dan setiap langkah harus penuh makna. Jika kita lengah, hal-hal sepele bisa meracuni semangat, mengaburkan konsentrasi, bahkan merusak kebahagiaan yang telah susah payah kita jaga.

Saya belajar untuk tidak sembarang bercerita, bahkan kepada orang terdekat sekalipun. Sebab, tidak semua telinga bijak mendengar, tidak semua hati lapang menerima, dan tidak semua mulut mampu menahan komentar. Ada kalanya, diam justru menjadi pelindung terbaik. Sebagaimana nasihat bijak, “Diam adalah kebijaksanaan, namun sedikit orang yang melakukannya.”

Sunyi yang Menenangkan, Diam yang Menguatkan
Dalam kesunyian, saya menemukan ketenangan. Bukan kesepian, tetapi keheningan yang diisi oleh kehadiran Yang Maha Kuasa. Allah selalu ada, mendampingi, mengawasi, dan menyaksikan setiap perbuatan. Dua malaikat senantiasa mencatat amal, sementara qarin (jin pendamping) mengikuti setiap langkah. Maka, saya tak ingin emosi dan cerita-cerita yang tak perlu justru menjadi alat bagi setan untuk menghasut.

Kebahagiaan sejati bersumber dari dalam diri, bukan dari pengakuan orang lain. Sebagaimana firman-Nya, “Ketahuilah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Bercerita kepada manusia mungkin memberi kelegaan sesaat, tetapi mengadu kepada Allah memberikan ketenangan yang hakiki.

Jangan Jadikan Diri Kita Tontonan
Seringkali, orang ingin tahu bukan untuk membantu, tetapi sekadar memuaskan rasa penasaran. Mereka menjadikan kita objek tontonan, hiburan, atau bahkan bahan gunjingan. Al-Quran mengingatkan dengan sangat tegas tentang bahaya ghibah: “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12). Betapa menjijikkan jika tanpa sadar kita terjebak dalam lingkaran ini.

Maka kita harus berhati-hati dalam membuka diri. Jangan sampai cerita-cerita kita justru menjadi bumerang yang melukai hati dan merusak hubungan. Cukuplah Allah sebagai tempat mengadu. Serahkan semua yang tak bisa kita kendalikan kepada-Nya. Biarkan Allah yang membalas kejahatan dengan keadilan-Nya, sementara kita fokus pada kebaikan yang bisa kita tebarkan.

Menjadi Pribadi yang Tenang dan Bermakna
Alangkah indahnya menjadi pribadi yang lembut hatinya, tenang jiwanya, dan bijak dalam bersikap, yakni seorang yang mampu menahan lidahnya dari kata-kata sia-sia, menahan hatinya dari prasangka buruk, dan menahan dirinya dari menghakimi orang lain. Sebagaimana doa yang selalu saya panjatkan: “Ya Allah, lembutkanlah hatiku, lapangkanlah dadaku, dan bukakanlah pintu kebijaksanaan dalam pikiranku.”

Aku tak boleh sesumbar,
Sebab tak semua orang layak mendengar.
Tak semua telinga bijak menanggung cerita,
Tak semua hati sabar menahan komentar.

Biarlah sunyi menjadi sahabat,
Biarlah diam menjadi kekuatan.
Sebab dalam hening, kita menemukan-Nya,
Dalam kesabaran, kita menemukan makna.

Penutup: Kembali kepada-Nya
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan hal-hal yang tidak relevan. Mari jaga hati, jaga lisan, dan jaga cerita. Hanya kepada Allah kita bersandar, hanya kepada-Nya kita mengadu. Seperti kata bijak, “Diam itu emas, tetapi jika diisi dengan dzikir, diam itu menjadi mutiara.”

Mari menjadi pribadi yang tenang, yang senantiasa memberi manfaat tanpa banyak bicara. Yang menjaga hati tanpa banyak menuntut. Yang menemukan kebahagiaan hakiki dalam dekatan dengan Sang Pencipta.
“Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal.” (QS. At-Taubah: 129).


Post a Comment

0 Comments